Acara ini adalah suatu acara yang begitu sangat menarik dan juga menginspirasi terutama dari pengalaman-pengalaman hidup Bung Nico dalam merintis usahanya di bidang kopi yang disampaikan kepada kami. Semangat Bung Nico dalam memperjuangkan petani kopi di Indonesia juga adalah suatu hal yang patut di appreciated!

Satu point yang sangat berbekas bagi saya adalah niat yang ada dalam Bung Nico (dalam usaha atau hal yang sedang dia tekuni sekarang) begitu prositif, selalu berusaha untuk memajukan dan memberikan dampak positive bagi lingkungan sekitar. Top banget untuk Bung Nico dan juga untuk acaranya! 2 Jempol!

– Irna (Maschinenbau)

Prelude

Vortrag ini jadinya dalam skala kecil karena hanya diikuti oleh 5 orang pelajar Indonesia. Ada beberapa orang yang sudah memberikan kabar untuk niat datang datang (baik beberapa orang Jerman dan juga ada dari Nicaragua), tetapi sayangnya mereka tidak hadir ketika acara dimulai.

Jalannya Acara

Saya meracik kopi di level 3 (Yellow Caturra Specialty dari Ibu Y. Asa dan Bpk. F. Denggus) yang dipilih para pelajar. Mereka antusias lihat bagaimana saya meracik kopi dengan Hario V60. Saya memakai bahasa Indonesia dalam presentasi saya. Pak Ralf dari Stoffwechsel e.V. yang mengijinkan saya memakai ruangan mereka juga ikut hadir dan di tengah acara ada anggota yayasannya yang ikut nimbrung sebentar mendengarkan presentasi sehingga saya switch ke bahasa Inggris dan Jerman.

Setelah kira-kira 2/3 waktu acara berlalu saya ijinkan 2 pelajar untuk meracik kopi pilihan mereka berikutnya adalah level 5 (Bunga Blend dari Pak Simon Thober dan Pak Filipus Hagus). Tampaknya itu menjadi pengalaman pertama mereka untuk langsung praktek meracik kopi di resep dasarnya kami di KAFFEEkostBAR.

Karena pada dasarnya saya berbicara dalam bahasa Indonesia maka lebih padat materi yang saya bagikan sehingga waktu 2 jam tidak terasa sudah berlalu. Saya pada dasarnya ingin berikan sebanyak-banyaknya nilai-nilai perjuangan saya dalam merintis usaha termasuk membawa dampak di komunitas dimana saya ada – baik di  pedalaman Jerman Timur maupun di pedalaman pulau Flores. Saya sungguh bersyukur untuk antusiasme dari para peserta yang mau menerima pembekalan kemaren malam.

Ini acara amazing! Bener worth it in time dan kalau ada acara kayak gini lagi pasti saya datang lagi. Sekali aja ga cukup! 5 bintang pastinya! Kalian harus dengerin seksama prosesnya terbentuknya Kaffee Batavia

Rahmat Alfian (Wirtschaftsingenieurwesen)

Dibalik secangkir kopi yang kita nikmati terdapat banyak cerita yang mungkin kita tidak pernah tahu. Terima kasih Bung Nico sudah memperjuangkan hak petani kopi Indonesia. It’s a whole new experience for me!

Bimo SP (Wirtschaftsingenieurwesen)

Melalui presentasi Bung Nico, saya seolah-olah kembali diingatkan untuk menjadi lebih dari sekedar pelajar. Seminar ini bukan hanya soal bagaimana meracik kopi yang enak, atau soal membangun usaha kedai kopi, atau sekedar soal direct trade vs fair trade. Tapi lebih daripada itu! Presentasi Bung Nico adalah soal bagaimana kita sebagai manusia harusnya bisa membawa dampak yang baik bagi sesama dan lingkungan! Terima kasih, Bung Nico!

– Samuel Sianturi (Verfahrenstechnik)

Presentasi yang menarik! Saya jadi tahu suka duka dalam dunia perkopian dan membuat saya makin menghargai kerja keras para petani kopi di manapun. Terima kasih, Bung Nico, sudah menyajikan presentasi yang dikemas menarik, serta memberikan pengalaman serta pengetahuan tentang meracik kopi sendiri. It was a great experience!

– Raymond (Maschinenbau)

Fazit

Setelah selesai acara mereka bilang bahwa acara ini sepatutnya banyak diikuti oleh teman-teman Indonesia mereka maupun student-student Jerman maupun bangsa-bangsa lain juga. Saya berharap mereka bisa ikut berbangga bahwa apa yang saya telah bangun di pedalaman Jerman Timur bisa lebih mengharumkan nama negara kita, Indonesia. Saya berharap bahwa ada babak berikutnya untuk presentasi di Dresden dengan skala yang jauh lebih besar pesertanya. Sebenarnya kalau masing-masing peserta kemaren malam berniat untuk mengajak 3 orang teman-teman mereka (baik Indonesia, Jerman maupun dari bangsa lain) maka jumlah peserta 15 bisa dengan mudah tercapai.

Randbemerkung

Ada yang mau ikut datang tetapi karena sudah bukan student maka diharuskan membayar 9€. Dia meminta boleh tanpa bayar/gratisan ikutan acara (atau paling tidak dapat potongan harga). Alasannya karena di akhir acara dipastikan akan beli kopinya.

Saya memberikan banyak materi yang berharga di waktu durasi 90 menit (bahkan kemaren sekitar 120 menit). Bukan semata-mata “teori” yang saya bagikan melainkan kisah perjuangan perintisan usaha saya yang tentunya banyak mengandung nilai-nilai kebenaran dan telah terbukti membawa dampak untuk di masyarakat dimana saya ada. Itu juga sudah termasuk 2 racikan minuman yang akan dinikmati selama jalannya acara (padahal lumrahnya di KAFFEEkostBAR di Döbeln harga 1 racikan saja sudah 2,6€ lho!).

Sekiranya hanya mau beli kopinya saja yah silahkan datang selesai acara dan tidak usah ikut acaranya. Itu logikanya! Orang tersebut memang sudah memandang presentasi saya tidak mempunyai nilai 9€ padahal dia belum mengalaminya. Setelah dimulai acara memang orang itu tidak datang karena saya jelas mengutarakan tidak adanya potongan harga dari pihak saya. Karena ini berarti saya mencurangi para peserta sebelum-sebelumnya seperti di Kaiserslautern dan di Jena.

Istilah “FAIR” disini adalah definisi biaya dari pihak saya untuk apa yang saya ingin “hasilkan/bagikan” dan presentasi ini lumrahnya dihargai minimal 30€/Person sekiranya itu diadakan di KAFFEEkostBAR di Döbeln sebagaimana telah kami lakukan di waktu-waktu lalu.