Ini adalah lagu terbaru saya dalam bahasa Indonesia. Teks datang kepada saya di malam hari dimana memang isinya adalah tema yang saya secara pribadi sedang alami khususnya 6 minggu terakhir.

 

Vers
Bagaikan angsa meninggalkan Utara
Lepaskan semuanya di belakang
Berjuang maju ke benua baru
Tangkap angin yang membawaku maju

Refrain
Ku tidak sendirian
Bersama-sama kita terbang ke selatan
Ku tidak sendirian
Bersama-sama kita terbang ke Selatan, ke Selatan
Tempat yang hangat tuk pulihkan jiwa
Ke Selatan

Bridge/Outro
Utara ku kan kembali ke pelukanmu nanti
Setiap musim ada batasnya
Kini Selatan menungguku

Penjelasan tentang isi text:

Setiap kita diperlengkapi dengan “kompas” di dalam diri kita. Oleh sebab itu kita selalu mencari arah “Utara” yaitu tujuan penciptaan setiap kita (yang tentunya berbeda-beda) dan impian bagaimana bisa maksimal berkarya menjadikan dunia ini menjadi lebih baik dari sebelumnya. Inilah proses kehidupan dimana kita menggali dan menilik ke dalam diri. Ya, semua ada musim-musimnya.

Burung angsa liar terbang dari Utara ke Selatan menjelang musim gugur dan menetap sepanjang musim dingin di Selatan. Angsa membutuhkan cuaca hangat untuk bertelur dan membesarkan anak-anaknya. Mereka terbang tidak sendirian tetapi berkelompok dengan memakai formasi “V” untuk meminimalisasi hambatan udara.

Sama halnya dengan setiap kita. “Utara” adalah tempat kita berkarya tetapi “Selatan” adalah tempat kita menghela nafas & beristirahat sebelum kita akan kembali ke Utara.

Buat saya “Selatan” adalah tempat dimana saya bisa “solitude” yaitu kembali menilik kehidupan saya. Ini kaitannya memang dengan hadirat Tuhan sebagai tempat saya beristirahat. Sebab Dia adalah Sang Pencipta yang tahu segalanya tentang saya. Entah hadirat Tuhan ini bisa saya temukan di kamar saya/bagian rumah/bagian desa/kota saya atau mungkin ada baiknya saya extra bepergian keluar daerah (ambil waktu liburan) dan “pergi menyendiri” mencari tempat sepi. Ini memang sengaja dilakukan untuk mengambil waktu hening dan keluar dari hiruk pikuk kesibukan pekerjaan dan aktivitas sehari-hari. Ini bisa jadi “benua baru”. Untuk mencapainya maka semua yang membebani harus ditinggalkan di belakang.

Sepi tetapi bukan “kesepian”. Memang hal ini bisa dilakukan bersama-sama seperti di acara reat-reat (acara semacam ini memang ada intensitas kesegaran yang dirasakan bersama seperti ibaratnya formasi “V”dimana hambatan di udara/alam spiritual menjadi sangat kecil bahkan tidak terasa) tetapi “bersama-sama” yang saya maksudkan adalah kesadaran yang tertanam bahwa bukan hanya kita sendiri yang melakukan ini tetapi ada juga orang-orang lain yang sebenarnya juga mengerti tentang kebenaran ini dan mereka pun mempraktekkan di jalur kehidupannya masing-masing. Yakinlah bahwa kita tidak sendirian!

Bagi yang merasa perlu untuk pergi memasuki musim kehidupan di Selatan: beranilah melangkah dan terbang ke Selatan sebab Utara tidak akan banyak berubah sekiranya kita tidak mengambil waktu ke/di Selatan.

*Foto diambil pribadi di Kaffeereise Febuari 2015. Lokasi adalah Pulau Flores, Labuan Bajo, di teras Restaurant/Café Tree Top.