Gerard Alexander Lilipali* (20)

PRELUDE

Pengalaman saya di mulai dari keinginan saya untuk kuliah di Jerman.

Saya kenal Om Nico dimulai dari tante saya yang mengenal ibu dari Om Nico. Mulai saat itu saya mendapatkan kontak Om Nico. Kami mulai bercakap-cakap dan saling berkenalan melalui Whatsapp. Hingga sampai ada kesempatan untuk bertemu Om Nico di Indonesia, di Bintaro/Jakarta Selatan, tempat kediaman beliau yaitu di awal Januari 2018. Itulah saat pertama saya bertemu langsung dengan Om Nico. Pada saat itu Om Nico sedang mengadakan presentasi mengenai KAFFEE BATAVIA di Döbeln kepada kerabat dekat maupun keluarga Om Nico.

Sekitar Februari awal saya sedang berjuang untuk mendapat kursi di Studienkolleg. Pada kesempatan itu om Nico mengajak saya untuk ikut bantu pada acara pembukaan KAFFEEkostBAR sebagai Standort dan dimana brand kopi tetap berlanjut menggunakan nama KAFFEE BATAVIA. Inilah saat pertama saya mengunjungi Kaffeebar om Nico di Döbeln.

CRASH COURSE BARISTA

Hal pertama saya belajar cara membuat Brühkaffee menggunakan Hario V60. Dengan cara Pour Over. Perhitungan awal Om Nico memakai 12g bubuk kopi dengan menggunakan Mahlgrad (Grind) 11/31 menggunakan Kaffeemühle Baratza kalau menggunakan Kaffeemühle yang besar (Mahlkönig VTA6S) 4/13.

Pembuatan Brühkaffee menurut saya yang masih awam tentang kopi sangatlah mudah untuk dilakukan. Om Nico mengajarkan saya untuk teliti menuangkan air maupun melihat timer pada timbangan Hario yang tertera. Pada awalnya saya masih bingung dan ragu untuk membuat 1 Tasse Brühkaffee, tapi lama-lama saya semakin yakin dan percaya diri dengan dukungan Om Nico.

Setelah itu Om Nico mengajari saya cara menggunakan mesin Siebträger untuk Espresso. Menurut saya membuat espresso sedikit lebih sulit daripada membuat Brühkaffee karena untuk menggunakan mesin Siebträger model Handhebel memang membutuhkan tenaga dan juga untuk membuat rata bubuk kopi espresso, lalu harus berhati-hati karena ada bagian-bagian mesinnya yang panas. Awalnya saya takut dengan alat untuk membuat busa, tapi ketika sudah tahu caranya, ternyata sangatlah mudah menggunakannya.

PRESENTASI KELUAR

Tidak hanya di Döbeln saja, saya pun juga di ajak untuk membantu di Bauernmarkt di Klosterbuch, Leisnig, untuk membuat berjualan kopi disana. Disana saya belajar untuk berinteraksi langsung dengan pembeli, yang sangat melatih bahasa Jerman saya. Om Nico juga mengajarkan untuk memberikan service yang terbaik kepada pembeli karna pembeli merupakan raja juga, maupun juga petani kopi (melalui filosofi Prinsip 2 Raja).

Melalui prinsip ini saya belajar untuk menghargai usaha petani yang sudah berjerih payah memberikan kopi dengan kualitas terbaik dengan berbagai jenis hasil akhir green bean yaitu Full Washed, Semi Washed, Natural, Pulped Natural, dan Honey (ini yang berlaku di koperasi ASNIKOM dari Flores Manggarai)

“Prinsip 2 Raja” adalah jaminan peningkatan kesejahteraan dan kebahagiaan/kepuasan pada para petani kopi di Flores dan juga penikmat kopi di Jerman (atau dimana saja).

Om Nico juga mengerjakan usahanya dengan mengedepankan “Transparency” secara mendetail bahkan sampai dengan jumlah yang akan diterima oleh petani kopi per kepala di dalam keluarga yang bekerja di kebun kopinya masing-masing. Tidak hanya itu saja, Om Nico juga membandingkan dengan UMR/Mindestlohn di Flores maupun juga di Jakarta, supaya konsumen tahu tentang fakta-fakta di Flores dan Indonesia.

Dengan begitu para penikmat kopi di Jerman dapat melihat dan merasakan bahwa keputusan mereka untuk membeli 1 cangkir kopi atau 1 kemasan (100g/250g) sungguh menjunjung tinggi harkat dan martabat keluarga petani kopi di Flores dan itulah awalnya untuk mendapatkan cita rasa kopi secara maksimal.

Jika si pembeli sampai di titik ingin rasanya untuk bertemu dengan petani kopi yang tertera dalam kemasan kopi yang ia beli, maka om Nico juga menawarkan “Coffee Trip” untuk memberikan akses dapat mengenal langsung dengan keluarga petani kopi tersebut di Flores. Menurut saya disinilah filosofi “Prinsip 2 Raja” sangat berbeda dengan filosofi dan konsep dagang di tempat lain. Transparensy di tempat lain (atau para Kaffeerösterei lainnya) jauh tidak sedetail KAFFEEkostBAR.

THE NEXT LEVEL: DIY

Beberapa bulan terakhir ada ide Om Nico untuk membuat DIY di KAFFEEkostBARyang menurut saya sangatlah bagus idenya. Karena dengan begitu para pembeli dapat memilih sendiri biji kopi yang ingin mereka gunakan sehingga bisa juga dicampur (dengan 7 variasi kopi yang tersedia).

Untuk memudahkan customer, saya dan Om Nico mencoba mengulik resep-resep yang bisa ditemukan di internet yang baiknya nanti bisa dicoba oleh pembeli. Ada 5 resep yang kami pelajari yaitu dari Doubleshot, Barefoot, Scott Rao, Tetsu Kasuya, dan Chad Wang.

Menurut saya dengan mencoba resep ini sangatlah seru dan menantang karena ada banyak hal yang harus di perhatikan, mulai dari Mahlgrad, temperatur air dalam Celcius atau Fahrenheit, juga metode khusus misalnya: dilubangi, atau dikocok, maupun pause 30-45 detik (terutama Tetsu Kasuya yang 5x break), maupun waktu akhir dan tentunya yang paling penting yaitu rasa akhir yang dihasilkan.

Walau hanya 10 hari waktu yang bisa saya ambil di Döbeln ada banyak hal yang saya pelajari dari Om Nico. Tidak hanya dalam urusan kopi tetapi juga dalam hal rohani, yang tentunya meningkatkan iman percaya saya kepada Tuhan. Misalnya dengan memulai kebiasaan baru:

  • tiap pagi pergi ke hutan atau ladang untuk membaca firman dengan keras
  • memuji Tuhan dengan lagu-lagu

*Gerry saat ini berjuang sebagai mahasiswa di Oberstufe (semester 2) di Studienkolleg Halle an der Salle.