Saya memutuskan untuk pergi kuliah di Jerman baru sekitar 1 minggu setelah saya selesai UN (Ujian Nasional) – sekitar Juli 2016.

SMU Kelas 3 Kelulusan 2016

Pada saat itu saya masih berjuang untuk ikut serta dalam SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) untuk bisa masuk UI, ITB, dan ITS. Jadi pada waktu yang bersamaan saya mengikuti GO (Ganesha Operation) yaitu kursus intensiv untuk nantinya bisa lulus SBMPTN dengan baik sehingga pada akhirnya saya bisa diterima di salah satu perguruan tinggi negeri di Indonesia. Singkat kata, saya tidak lulus SBMPTN. Maka dari itu saya memutuskan untuk fokus persiapan pergi kuliah ke Jerman – dengan awalnya harus memulai kursus bahasa Jerman.

Saya kursus privat di sekitar daerah BSD (Tangerang Selatan) mulai dari A1, A2 sampai B1. Saya memang ditargetkan untuk bisa menyelesaikan B1 intensiv dalam waktu 6 bulan.

Saya mencoba mengikuti pelajaran bahasa jerman dengan baik. Pelajaran A1 masuk termasuk basic, karena di dalamnya hanya berisi percakapan sehari-hari, angka, dan juga sapaan. Pelajaran A2 sudah mulai bermain dalam Grammatik, Satzaufbau, dan kasus, etc.

Nah mulai B1 sudah mulai cukup sulit karna di dalamnya saya harus membuat kalimat sendiri serta Redemittel, contoh: “Sehr geehrte Damen und Herren”, dalam email bentuk formal.

Perjuangan I

Akhirnya saya mengikuti ikutan ujian B1 di Goethe-Institut-Jakarta pada bulan Oktober 2016. Ujian terdiri dari beberapa 2 bagian besar yaitu, (1) Schriftliche Prüfung (ujian tulis) yang terdiri dari, (A) Hören (mendengarkan), (B) Leseverstehen (membaca), (C) Schreiben (menulis), lalu part yang kedua yaitu, (2) Mündliche Prüfung (berbicara/presentasi).

Pada ujian pertama saya hanya lulus 1 bagian besar yaitu Mündliche dan 1 bagian kecil yaitu Hören (1A). Maka dari itu saya harus mengulang 2 bagian yang lain dan itu baru bisa dilakukan sekitar 1 bulan setelah mendapatkan pengumuman hasil ujian B1. Jadi sekitar November 2016 saya mengulang dan lulus sehingga saya mendapatkan sertifikat B1.

Setelah saya mendapatkan sertifikat B1, saya langsung mendaftar ke STK (Studienkolleg) di berbagai kota di Jerman. Saya tentunya hanya bisa melamar universitas di Jerman yang menerima ijazah B1, yaitu Darmstadt, Hannover, Karlsurhe, Leipzig, dan Nordhausen.

Beberapa STK ada yang langsung melamar atau Direktbewerbung, ada juga yang melalui Uni-Assist (Platform untuk melamar beberapa Uni dan STK).
Untuk melamar dibutuhkan softcopy dan hardcopy. Dalam hal ini dibutuhkan:

  • Ijazah SMA dan Rapot Kelas 12 (Semester 1 dan 2) yang sudah di legalisir
  • Sertifikat Goethe-Institut B1 (sudah dilegalisir langsung oleh pihak Goethe-Institut)
  • Terjemahan dalam bahasa Jerman, pada saat itu saya menggunakan penerjemah tersumpah Ibu Dwi yang tinggal di Bintaro di Jalan Kesehatan.
  • Formulir dari masing-masing STK

Untuk Uni-Assist berlaku tiap semesternya 75€ untuk uni yang pertama, 15€ uni yang kedua. Untuk Bewerbung hanya dikirimkan semua dokumen sekali ke Berlin.

Setelah itu saya membuka rekening Deutsche Bank melalui Kedutaan Jerman.

Sekitar Desember 2017 saya langsung dapat Zulassung dari beberapa STK yang saya lamar.

Lalu sekitar Januari 2017 saya membuat appointment dengan kedutaan untuk membuat Visa Jerman dengan dokumen yang sama dengan lamaran di Stk hanya ada tambahan yaitu

  • Formulir Visa Jerman
  • Zulassung atau undangan dari STK atau bukti penerimaan ikut kursus bahasa Jerman selanjutnya di Jerman.
  • Kontak di Jerman atau kenalan (alangkah baiknya kalo memang punya di Jerman)
  • Bukti telah membuka rekening di salah satu bank di Jerman, biasanya Deutsche Bank yang rekeningnya juga telah berisi minimal 8862€.

Saya mendapat kesulitan di Kedutaan Jerman Jakarta karena ada 2 tempat yang saya lamar. Saya memberikan bukti saya ikut kursus bahasa Jermannya di Köln dan Zulassung dari STK Nordhausen, maka itu membuat pihak kedutaan kebingungan. Akhirnya sampai Maret 2017 saya tidak bisa mendapat Visa.

Oleh sebab itu jadinya saya memang terlambat ikut Aufnahmeprüfung (ujian masuk STK) dan harus melamar ulang untuk semester selanjutnya.

Perjuangan II

Saya berikutnya tetap melamar ulang dan berjuang kembali membuat Visa Jerman dan akhirnya berhasil mendapatkannya.

Saya berangkat ke Jerman kira-kira Juni 2017 karena ada ujian STK sekitar awal Juli di Darmstadt. Saya bersama keluarga pergi ke Darmstadt, untuk 2 minggu kami tinggal di Hotel. Sangatlah sulit untuk mencari Wohnung (Apartment) jangka pendek di jerman. Akhirnya saya mengikuti semua ujian masuk (ANP) yang boleh saya ambil. Akan tetapi hasilnya sayangnya mengecewakan saya sebab tidak diterima dari semua STK.

Saya memutuskan untuk tetap tinggal di Darmstadt sekitar 4 bulan untuk melanjutkan kursus bahasa Jerman sampai akhir Oktober 2017. Saya juga mengambil ujian B2 di Frankfurt. Lalu saya memutuskan balik ke Indonesia pada bulan November 2017. Dan saya mendapatkan hasil B2 yang hanya lulus bagian tulis dan bagian berbicara saya tidak lulus.

Perjuangan III

Awal Januari 2018 kembali saya ke Jerman dengan sudah mendapatkan Zulassung dari Darmstadt, Nordhausen, Zittau, Halle, dan Leipzig.

Saya juga mengambil tes B2 ulang pada waktu saya tinggal di Leipzig dan mendapatkan sertifikat B2 Telc. Kebanyakan saya tinggal di Hotel dengan biaya yang sangat tinggi, karena sulit untuk mencari Apartment jangka pendek karena minimal waktu sewanya memang musti 6-12 bulan.

Akhirnya saya di terima di STK Halle dan sampai sekarang berjuang di semester yang kedua.

Studienkolleg T-Kurs Halle 2018

Solusi/Anjuran

Dengan adanya konsep PONDOK ARKHIPUS yang dibangun oleh keluarga Om Nico di Tangerang Selatang (tepat di perbatasan dengan Jakarta Selatan, daerah Bintaro Jaya  sektor 2) serta semua informasi dari Om Nico beserta keluarga dan timnya tentu sangat menjawab semua permasalahan saya dahulunya dan akan sangat dapat membantu para calon-calon pelajar Indonesia untuk mempersiapkan mental dan diri mereka untuk mampu bersaing untuk kuliah di Jerman – tanpa menggunakan agen-agen yang tentu bayaran jasa mereka amat tinggi, seperti adanya pengenaan biaya untuk legalisir, etc.

Maka dari itu dengan adanya kesempatan untuk bisa mengadakan persiapan sebelum pergi ke Jerman serta kursus bahasa intensiv merupakan peluang besar yang sangat disayangkan jika di lewatkan.

Native Speakers (orang Jerman) juga sangat membantu prosesnya belajar dan mengetahui bagaimana gambaran orang Jerman dalam berkomunikasi serta kultur budaya serta cara berpikir mereka.

Gerry lulus SMU di Juli 2016 dan baru bisa lanjut mulai kuliah di Studienkolleg Halle pada bulan Febuari 2018. Total waktu yang dia butuhkan untuk semua perjuangannya adalah 1,5 tahun. Program PONDOK ARKHIPUS bisa meminimalisasi waktu persiapan paling tidak ke 6 bulan (3 bulan di Indonesia dan 3 bulan di Altenburg, Jerman bagian Timur). Untuk tahu lebih jelasnya tentang Pondok Arkhipus bisa diklik disini.