Menyusuri Jejak Kopi Nusantara Sampai ke Döbeln

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi sebuah kota kecil di Jerman Timur bernama Döbeln. Tidak banyak yang saya tahu tentang kota ini, kecuali bahwa dia diapit kota Leipzig, dan juga kota Dresden, tempat saya tinggal. Lebih dari itu tidak ada. Sempat saya berusaha untuk mencari di internet tentang hal apa saja yang sekiranya menarik di sana, atau ada berita apa saja yang muncul dalam beberapa waktu ke belakang. Tetap tidak ada yang terlalu istimewa. Berangkat dari segala ketidaktahuan itu, perasaan saya sedikit campur aduk ketika kereta api yang saya tumpangi perlahan-lahan sampai di sana. Tampak dari jendela, stasiun kereta api yang tidak terlalu besar dan terkesan tidak terawat. Tapi ya tidak apa, wajar namanya juga kota kecil, begitu gumam saya dalam hati. Sesudah turun dari kereta, saya lantas langsung membuka Google Maps untuk mencari arah ke tempat tujuan saya di kota ini. Didorong rasa penasaran yang cukup besar, akhirnya saya memutuskan untuk jalan kaki saja, sembari menikmati pemandangan kota Döbeln. Karena orang bilang, tak kenal maka tak sayang.

Dua puluh menit menurut Google Maps adalah waktu yang dibutuhkan untuk sampai di tujuan dengan berjalan kaki. Lumayan untuk meregangkan otot betis dan paha yang lebih kurang 1 jam sebelumnya dipaksa duduk diam di kursi kereta. Seratus meter pertama saya berjalan, masih tidak ada yang menarik. Tata kotanya hampir sama dengan kota-kota kecil lain di Jerman Timur. Tetapi begitu memasuki daerah Zentrum atau tengah kota, perlahan-lahan pemandangan di depan mata menjadi lebih seru. Salah satu pemandangan yang membuat saya cukup kagum adalah di kota sekecil ini pun ternyata ada bioskop. Tak jauh dari bioskop ini ada taman kecil tempat warga sekitar bisa duduk-duduk sambil menikmati suasana kota Döbeln. Semakin ke tengah kota, perasaan campur aduk saya pelan-pelan pudar digantikan dengan perasaan senang. Akhirnya saya bisa melihat sedikit semaraknya perkotaan dengan aneka toko dan gerai di pinggiran jalan. Matahari yang sebentar lagi akan tenggelam ketika saya sampai di Zentrum, menambah indah suasana di kota kecil yang cantik ini. Sedikit mengingatkan saya ketika dulu tinggal di kota kecil Soest di barat Jerman.

Beberapa ratus meter kemudian akhirnya saya tiba juga di tempat tujuan saya, di KAFFEEkostBAR. Perjalanan selama 20 menit dengan berjalan kaki ini memberi saya kesimpulan, bahwa memang kota Döbeln biasa saja, tapi keberadaan KAFFEEkostBAR inilah yang membuatnya istimewa, setidaknya buat saya.

Melihat gerai kopi milik Bung Nico yang tampak cantik dari luar ini, membuat saya sedikit terharu karena ternyata kopi dari Flores nun jauh di timur Indonesia sana bisa sampai dan dinikmati masyarakat di kota kecil di timur Jerman (yang mungkin orang Jerman sendiri pun banyak yang tidak tahu tentang kota Döbeln). Menjadi sedikit biasa saja kalau café ini ada di kota-kota besar seperti misalnya Berlin, Hamburg, atau Frankfurt. Tapi dengan “kenekatan dan keberanian” Bung Nico dalam merintis usaha ini, Kaffee Kostbar bisa berdiri bersanding dengan toko-toko lain di Döbeln dan mendapat respon positif dari masyarakat setempat.

Masuk ke dalam Cafe, saya semakin kagum karena pemandangan di dalamnya lebih indah dari yang ada di luar. Poster-poster yang menjelaskan tentang para petani dari Flores yang menghasilkan biji kopi terbaik ini berjejer rapi, informatif tapi juga tetap sedap dipandang mata. Desain interiornya juga ciamik dan memberi kesan yang nyaman bagi pengunjung untuk betah berlama-lama duduk sambil menikmati racikan kopi yang tidak perlu kita ragukan lagi kenikmatannya. Kesan pertama begitu menggoda, kalau kata biduan dangdut.

Saking kagumnya saya dengan cafè ini, saya sampai lupa menceritakan perihal kenapa saya datang ke sini 🙂

Prelude

Kilas balik sebulan sebelum saya ke Döbeln, Bung Nico mengadakan seminar di Dresden tentang kopi, prinsip dua raja, dan semangatnya untuk mensejahterakan petani kopi di Flores. Terlahir dari keluarga besar yang kebanyakan petani kopi, saya tertarik dengan tema seminar ini dan tanpa pikir panjang memutuskan untuk hadir. Setelah seminar, saya sedikit bercerita tentang perkebunan kopi yang dikelola keluarga besar saya di Lintong, Tapanuli Utara dan bagaimana saya juga punya semangat yang sama terhadap petani kopi di kampung saya.

Dari perbincangan itu, Bung Nico kemudian menawarkan saya untuk membantu beliau dalam acara Bauernmarkt di Klosterbuch dekat Döbeln, sekalian kami bisa ngobrol dan sharing lebih banyak soal dunia kopi. Tugas saya nanti di Bauernmarkt adalah menjadi barista dadakan. Sempat agak ragu karena walaupun saya peminum kopi tapi saya tidak pernah tahu caranya menjadi barista. Menurut saya, kopi harusnya sederhana saja: bubuk kopi – seduh air panas – seruput. Toh kopi tubruk pun sudah enak, buat apa cara seduhnya dibuat susah.

Tapi pemikiran ini pelan-pelan berubah ketika saya mulai diajarkan oleh Bung Nico tentang metode V60, beberapa saat setelah saya sampai di KAFFEEkostBAR. Setelah dibuatkan secangkir kopi oleh Bung Nico, pelajaran pertama tentang penyeduhan kopi dimulai. Dari situ saya melihat bahwa memang cara penyeduhan kopi itu unik dan cukup berpengaruh dalam menghasilkan rasa kopi yang kita inginkan. Bahkan di metode sesederhana V60 saja, beda waktu tunggu atau beda putaran airnya, maka akan lain pula rasa yang keluar. Satu dua kali diajarkan, saya kemudian mencoba sendiri menyeduh kopi untuk Bung Nico dan Gerry*.

*Pertemuan dengan Gerry ini cukup unik karena sama seperti saya, di Indonesia dia juga tinggal di daerah Serpong. Jauh-jauh ke Döbeln, ternyata bertemu dengan orang Serpong juga. Gerry sendiri sedang menempuh Studienkolleg di kota Halle dan sudah sangat sering berkunjung ke Döbeln. Karena Gerry sudah lebih lihai dalam meracik kopi, Bung Nico memberi tugas kepada Gerry untuk mengurus mesin Espresso. Dengan Gerry juga saya cukup banyak berbagi cerita, mendengar pengalaman dia selama di Jerman dan ketertarikan dia terhadap dunia kopi. Dan terima kasih juga untuk Gerry, karena saya bisa banyak bertanya tentang step-step meracik kopi dengan metode V60, yang saya masih sering lupa.

Setelah kursus singkat tentang meracik kopi, kami bertiga mulai beres-beres untuk menyiapkan stand dan alat-alat yang dibutuhkan untuk acara Bauernmarkt esok harinya. Sehabis itu kami dibawa Bung Nico untuk menjemput anak tertua Bung Nico yang ternyata ikut semacam pentas seni sirkus di kota Döbeln. Dan ketika kami sampai di rumah Bung Nico di Mockritz, si sulung ternyata sempat melihat saya ketika rombongan sirkus mereka berjalan kaki ke tempat mereka tampil. Kedatangan kami disambut oleh Kak Eva dan anak bungsu mereka. Sambutannya sungguh hangat, walaupun saya baru pertama kali datang ke rumah ini.

Setelah bercengkrama beberapa saat, Kak Eva dan anak-anak sudah harus tidur. Bung Nico, Gerry, dan saya lanjut bercerita tentang kehidupan di Jerman dan kopi. Di sesi perbincangan ini saya merasa benar-benar tidak menyesal memenuhi undangan Bung Nico, karena banyak ilmu baru yang saya dapat soal dunia kopi. Mulai dari pertanian, produksi, sampai ke kondisi kopi secara global.

Bauernmarkt di Klosterbuch

Keesokan harinya kami segera bergegas menuju ke Bauernmarkt untuk menyiapkan stand, poster, dan alat-alat yang dibutuhkan untuk menyiapkan kopi. Di acara kali ini, ada beberapa varian kopi yang akan kami jual. Ada kopi biasa alias V60, lalu ada Espresso, Double Espresso, Cappucinno dan Caffè Latte. Disambut suhu dingin di pagi hari, tidak menyurutkan semangat kami untuk memberikan yang terbaik. Pelan-pelan stand dan TV untuk presentasi kami susun dan sudah siap sebelum waktu acara dimulai.

Saya sendiri cukup kaget karena stand kami cukup menonjol jika dibandingkan dengan stand-stand yang lain. Letak stand kami yang dekat sekali dengan pintu masuk juga menjadi keuntungan buat kami karena stand kami pasti akan jadi stand pertama yang mereka lihat.

Satu jam pertama belum terlalu banyak orang yang datang. Kami bertiga lebih banyak ngobrol dan bercerita. Selalu menyenangkan ketika Bung Nico dan Gerry mulai bercerita karena ada saja ilmu atau hal menarik yang bisa saya dapat dari sharing mereka. Masuk jam kedua dan ketiga acara, mulai banyak pesanan. Saya sendiri cukup gugup karena sembari menyeduh kopi, pelanggan juga melihat proses penyeduhan kopi secara langsung. Tetapi setelah cangkir ketiga dan keempat, lama-lama akhirnya saya mulai terbiasa dengan hal itu. Sembari Gerry dan saya menyeduh kopi, Bung Nico menjelaskan tentang kopi yang dia sediakan, dari mana kopi ini berasal, dan hal-hal detail lainnya tentang kopi. Mendekati jam makan siang, pelanggan bertambah ramai. Mungkin karena suhu yang dingin menambah hasrat akan minuman hangat. Semakin banyak kopi yang saya seduh, semakin menyenangkan prosesnya, dan semakin seru rasanya. Rasa letih karena berdiri dan rasa pegal karena memegang teko air panas, akhirnya terbayarkan dengan pujian dari beberapa pelanggan yang mengatakan bahwa kopi yang kami sajikan sungguh nikmat. Layaknya seorang koki yang dipuji masakannya enak, seperti itulah kira-kira perasaan saya tiap mendengar pujian dari pelanggan yang datang.

Dari pengalaman saya melihat kepuasan pelanggan, akhirnya saya jadi belajar satu hal, bahwa dalam secangkir kopi pada akhirnya kebahagian-kebahagian kecil seperti inilah yang seharusnya jadi tujuannya. Konsumen yang bahagia menyeruput racikan kopi terbaik dan petani kopi yang juga bahagia, hasil usahanya dihargai dengan sebaik-baiknya. Di dalam perjalanan pulang ke Dresden, saya terus merenungi konsep ini dan langsung teringat ke kampung saya di Lintong sana.

Pernah melihat langsung bagaimana beberapa paman saya bercerita bahwa panen kopi tahun ini berjalan baik dan betapa bahagianya mereka mengatakan kalau harga kopi juga sedang bagus-bagusnya, di situ saya merasakan bahagia yang sama ketika saya melihat warga Döbeln tersenyum menikmati kopi enak di Bauernmarkt. Ah betapa lebih indahnya lagi kalau kopi Lintong paman saya bisa dicicipi oleh warga Dresden, misalnya, pasti akan bertambah mekar lagi senyuman mereka. Dulu mungkin fantasi seperti ini cuma jadi impian belaka, tapi ketika melihat semangat dan perjuangan yang sudah dilakukan oleh Bung Nico di Döbeln, rasanya fantasi ini bisa menjadi nyata.

Outro

Cerita tentang kopi Lintong biarlah nanti saya tuangkan di tulisan selanjutnya. Sementara waktu, jikalau ada handai taulan yang membaca tulisan ini dan tertarik untuk mencoba kopi Lintong asli dari Humbang Hasudutan di kampung saya, silakan hubungi saya atau melalui bung Nico. Saya sungguh berterima kasih kepada Bung Nico yang sudah memberikan saya kesempatan untuk bisa ikut serta dalam acara Bauernmarkt dan memberikan saya kesempatan menceritakan pengalaman saya di website ini.

Akhir kata, saya ingin menutup tulisan ini dengan sebuah quote yang cukup unik :

Even a bad coffee is better than no coffee at all. Well, if you do find a bad coffee, maybe you have not tried the coffee in KAFFEEkostBAR. Even a sip of coffee here might be better than the best coffee you have ever tasted!