Pada tgl. 10 Januari 2019 kemaren saya diperbolehkan untuk memberikan pembekalan di SMA Tirta Marta BPK Penabur di Pondok Indah, Jakarta Selatan. Saya memang lulusan TK – SD – SMP di sekolah tersebut. Saya meneruskan pendidikan jenjang SMA saya atas pilihan pribadi di SMU Pangudi Luhur, Jln. Brawijaya 4, Jakarta Selatan, yang adalah sekolah katolik khusus laki-laki saja!

Ketika saya sedang menuggu jemputan Gojek saya datang di depan SMA Tirta Marta saya dihampiri seorang murid kelas 12 yang bernama Felix yang bertanya “Bagaimana saya tahu ditemukan Tuhan?” sebagaimana saya telah mengeluarkan pernyataan tersebut di awal acara pembekalan saya bahwa saya memang ditemukan Tuhan di Jerman dan bukan di Indonesia – yang maksudnya adalah saya tidak lagi berjalan sendirian di jalan saya melainkan memilih hanya jalan bersama Tuhan di jalanNya. Felix saya berikan nomor HP Jerman saya untuk bisa WA (whatsapp) dengan saya sebab jemputan Gojek saya sudah hampir datang.

Malamnya saya bisa mengambil waktu untuk WA dengan Felix.

Setelah selesai waktu percakapan tersebut, saya merasa bagaikan diingatkan oleh Tuhan bahwa memang alur kehidupan saya memang penuh dengan inspirasi, motivasi, serta pembelajaran yang berharga bagi mereka yang membacanya. Karena memang Tuhan menempa kepribadian dan karakter saya begitu rupa sehingga saya (di umur 37 saat ini) terus berjalan meniti jalur kehidupan yang memang dikhususkan hanya untuk saya saja seorang! Dan saya bersyukur bahwa jalur saya telah membawa dampak positif yang progresif bagi masyarakat dimana saya ditempatkan Tuhan (baik itu saat ini di pedalaman Jerman Timur mapun di pedalaman Flores Manggarai Timur).

Ijinkan saya untuk membagi isi kehidupan saya dan saya sungguh berharap agar mereka yang membaca bisa juga ikut refleksi kehidupannya atau menilik ulang dimana sebenarnya Sang Pencipta sudah bekerja dengan caraNya yang ajaib bahwa sebenarnya sudah ditemukan ada beberapa signal yang Dia kirim untuk setiap kita bisa mendekat padaNya – tentu kasus, situasi dan waktunya pasti berbeda-beda dan unik!

Dengan tulisan ini saya berharap yang membaca akan ditemukan juga oleh Dia yang memegang kehidupan saya secara menyeluruh – dan Dialah PRIBADI KASIH YANG SEMPURNA! Silahkan membaca dan mencerna kisah hidup saya.

Prelude

Saya sungguh bersyukur bisa dibesarkan di keluarga kelas menengah di daerah Jakarta Selatan dengan mengalami beberapa musim-musim kehidupan seperti peningkatan kualitas kehidupan dan juga perubahan penghidupan ke bawah sehingga harus kadang keluar dari “zona nyaman”.

Saya lahir dan besar awalnya di daerah Jakarta Selatan yaitu di Jalan Harapan dekat daerah Jalan Kesehatan (antara daerah Deplu dan Bintaro Jaya). Seingat saya almarhum Bapak waktu itu bekerja di perusahaan Singer dengan lokasi gedung kantornya di Jalan Sudirman, Jakarta Pusat. Sampai waktu awal SD kelas 2 saya tinggal di rumah tersebut (3 kamar tidur dengan 1 ruang makan, ruang keluarga/tamu dengan teras dan kebun yang masih tergolong kecil tetapi di ingatan saya ada tempat pasir dan ayunan serta panjat tiangnya. Kami memiliki 1 bahkan 2 pembantu rumah tangga dan juga seorang supir yang saya rasa memang diperkerjakan perusahaan Singer untuk jabatan karir Bapak saya.

Saya hanya memiliki seorang kakak perempuan yang berusia sekitar 3,5 tahun lebih tua dari saya. Dia bernama Christa Sihombing dan saat ini menemani Ibu kami di rumah kediamannya di Ciputat Timur, Tangerang Selatan. Mulai SD kelas 2 saya mulai pindah tinggal di daerah rumah tersebut yang lokasinya tepat di belakang perumahan Bintaro Jaya Sektor 2. Bapak saya memang pindah bekerja di perusahaan asuransi jiwa Amerika bernama John Hancock yang joint venture dengan perusahaan asuransi lokal bernama Bumiputera. Beliau diangkat menjadi Presiden Direktur (CEO) atas  seluruh Indonesia dengan bangunan kantornya di daerah Thamrin, Jakarta Pusat.

Di rumah yang baru kami memiliki 2 orang pembantu rumah tangga, 2 orang tukang kebun dan 1 orang supir pribadi/kantor. Daerah rumah tersebut memang dulunya tergolong daerahnya masyarakat kecil karena tepat di depan dan di samping rumah kami (di akhir tahun 80an sampai awal 90an) masih sawah-sawah dan kebun-kebun yang dikerjakan para petani di daerah tersebut dan mereka masih tinggal di gubuk-gubuk tanpa lantai. Jelas bangunan rumah kami terlihat sangat mewah dan menonjol dari sekitarnya. Memang Bapak saya ingin tinggal jauh dari keramaian kota dan bisa melihat pemandangan hijau di sekitar rumahnya. Sekiranya kami membawa tamu untuk kunjungan ke rumah kami maka biasanya mereka akan kaget ketika sampai di depan gerbang rumah kami karena tidak menyangka rumah mewah seperti itu dibangun di daerah pinggiran luar perbatasan Jakarta.

Almarhum Bapak saya bernama Maruli Basa Sihombing berasal dari suku Batak! Beliau dulu itu bekerja di beberapa perusahaan swasta baik asing maupun lokal dan banyak bergelut di dunia asuransi. Beliau memang seorang pemimpin yang tegas dan berdisiplin tinggi. Bayangkan sampai beliau

Sejak masa SD seingat saya beliau sibuk di tempat pekerjaan, dan ketika saya mulai melakukan kunjungan ke rumah teman-teman saya dan juga menginap di rumah mereka maka saya mendapatkan para Bapak yang ternyata bisa mengambil waktu bermain dengan anak-anak mereka sepulang mereka bekerja – berbeda dengan ayah saya yang biasanya sekitar jam 17.30 baru tiba di rumah dari